SKRINING DAN DETERMINAN KEJADIAN SINDROM OVARIUM POLIKISTIK (SOPK) PADA REMAJA

Authors

  • Devi Anggita Sari Politeknik Kesehatan Ummi Khasanah
  • Erna Yovi Kurniawati Politeknik Kesehatan Ummi Khasanah
  • M. Any Ashari Politeknik Kesehatan Ummi Khasanah

DOI:

https://doi.org/10.48092/jik.v9i2.211

Keywords:

Skrining, Determinan SOPK, Remaja

Abstract

Latar Belakang: Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) atau Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah kelainan hormonal yang paling sering terjadi pada wanita remaja dan wanita usia subur di dunia. Secara global populasi infertilitas sekitar 50-80 juta pasangan. Di Indonesia terdapat 67 dari 93 pasien SOPK (72,04%) mengalami infertilitas sebanyak 5,8% penderita SOPK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil klinis dan determinan kejadian Sindrom Ovarium Polikistik (SOPK) pada remaja di Yogyakarta tahun 2023. Metode: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif, dengan pendekatan cross sectional. Data dalam penelitian ini adalah data primer yang diambil langsung dari kuisioner 100 responden. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan reponden yang mengalami SOPK sebanyak 1 responden (1.0%), suspek SOPK sebanyak 11 responden (11.0%), tidak mengalami SOPK 88  responden (88.0%). Berdasarkan gejala klinis responden, amenore sekunder paling banyak dialami oleh remaja usia 15-19 tahun 57.9%. Alopecia paling banyak dialami pada remaja usia 20-24 tahun 92.3%. Remaja dengan riwayat pernah mengalami penyakit DM sebanyak 21.1% mengalami amenore sekunder. Keluarga tidak ada yang mengalami penyakit DM namun mengalami amenore sekunder dengan 47.4% responden. Remaja dengan penyakit DM saat ini mengalami amenore sekunder 15.8%. Remaja dengan riwayat infertilitas keluarga mengalami amenore sekunder 21.1%. Remaja tanpa riwayat penyakit infertilitas namun mengalami alopecia 92. 3%. Kesimpulan: Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar remaja di Yogyakarta tidak mengalami SOPK. Remaja tanpa riwayat penyakit infertilitas namun mengalami  alopecia 92.3%. Responden dengan sudah USG dengan hasil positif terdapat 1 responden tanpa memiliki riwayat DM ataupun infertilitas.

Downloads

Published

2023-06-30

Issue

Section

Articles